entry image

SEMINAR PARENTING '"KIDS DONT NEED SMARTPHONE BUT SMART PARENT"

Kids Don’t Need Smartphone, But Smart Parents: Menemukan Kunci Parenting di Era Digital bersama Bapak Herjandi Wijaya

Tangerang – Di tengah gempuran teknologi yang kian masif, orang tua masa kini dihadapkan pada tantangan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Apakah gadget adalah kawan atau lawan bagi tumbuh kembang anak? Pertanyaan besar ini dikupas tuntas dalam seminar parenting inspiratif yang baru saja diselenggarakan oleh Sekolah Dharma Widya dengan tema yang sangat provokatif namun esensial: "Kids Don’t Need Smartphone, But Smart Parents."

Menghadirkan pakar yang kompeten di bidangnya, Bapak Herjandi Wijaya, S.Kom, M.M, C.Ht., seminar ini berhasil membuka mata  orang tua siswa mengenai realita di balik layar gawai yang setiap hari dipegang oleh anak-anak mereka.

Bukan Sekadar Melarang, Tapi Mendampingi

Dalam pemaparannya, Bapak Herjandi Wijaya menekankan bahwa anak-anak sebenarnya tidak "membutuhkan" smartphone untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh. Sebaliknya, yang mereka butuhkan adalah kehadiran orang tua yang cerdas (Smart Parents) dalam mengelola teknologi.

Beliau menjelaskan bahwa ketergantungan anak pada gadget seringkali merupakan cerminan dari kurangnya stimulasi emosional di dunia nyata. "Smartphone bisa memberikan hiburan instan, tapi ia tidak bisa memberikan pelukan, empati, dan nilai-nilai moral yang hanya bisa didapatkan dari orang tua," ujar beliau di hadapan para audiens yang menyimak dengan saksama.

Dampak Psikologis dan Solusi dari Kacamata Hipnoterapi

Sebagai seorang Certified Hypnotherapist (C.Ht), Bapak Herjandi membedah bagaimana layar gawai bekerja memengaruhi gelombang otak anak. Beliau menjelaskan bahaya dopamine hit yang membuat anak kecanduan, sulit fokus, hingga tantrum saat gawai diambil.

Namun, seminar ini tidak hanya menebar kekhawatiran. Sebagai sosok yang juga berlatar belakang Magister Manajemen dan Teknologi Informasi (S.Kom, M.M), beliau memberikan solusi praktis dan strategis bagi orang tua, di antaranya:

  1. Digital Detox & Boundaries: Menetapkan zona bebas gadget di rumah, seperti di meja makan dan kamar tidur.

  2. Koneksi Sebelum Koreksi: Membangun kedekatan emosional terlebih dahulu agar anak mau mendengarkan nasihat orang tua terkait penggunaan teknologi.

  3. Parental Role Model: Menjadi teladan bagi anak. Orang tua tidak bisa mengharap anak lepas dari HP jika orang tuanya sendiri selalu sibuk dengan gawai di depan mereka.

Antusiasme dan Harapan Baru

Suasana seminar menjadi sangat dinamis saat sesi tanya jawab dibuka. Banyak orang tua yang mencurahkan kegelisahan mereka mengenai anak yang sulit lepas dari game online atau media sosial. Dengan pembawaan yang tenang dan solutif, Bapak Herjandi memberikan teknik komunikasi persuasif untuk menghadapi situasi tersebut tanpa harus terjadi konflik yang meledak-ledak.

Seminar ini ditutup dengan sebuah pesan penutup yang menggugah: "Teknologi adalah alat yang baik di tangan orang yang tepat, namun tidak ada teknologi yang bisa menggantikan peran ayah dan ibu."

Melalui kegiatan ini, Sekolah Dharma Widya berharap para orang tua dapat membawa pulang ilmu yang bermanfaat untuk menciptakan lingkungan rumah yang lebih sehat secara digital. Karena pada akhirnya, masa depan anak tidak ditentukan oleh seberapa canggih smartphone yang mereka miliki, melainkan oleh seberapa cerdas dan hadirnya orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang mereka.

share:
WhatsApp